Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Menteri Luar Negeri Belarus Maxim Ryzhenkov untuk membahas penyusunan roadmap kerja sama bilateral Indonesia–Belarus. Dokumen tersebut dipersiapkan sebagai salah satu agenda penting menjelang kunjungan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Indonesia.
Pertemuan bilateral itu membahas sejumlah isu strategis yang akan dibawa dalam agenda kunjungan kenegaraan Presiden Lukashenko.
“Dokumen tersebut akan menjadi peta jalan terukur, yang mencakup kerja sama di berbagai bidang, termasuk perdagangan, investasi, kemanusiaan, sosial budaya dan lainnya,” kata Airlangga dalam keterangannya, Minggu (17/5).
Pemerintah Indonesia menilai Belarus memiliki potensi strategis dalam mendukung pengembangan industri manufaktur, ketahanan pangan, serta teknologi industri. Presiden Lukashenko dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada Juli 2026.
Airlangga menyebut, implementasi perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia-EAEU FTA diyakini dapat memperluas peluang perdagangan dan investasi bagi kedua negara.
“Indonesia memandang Belarus sebagai mitra strategis dalam penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, dan pengembangan manufaktur berbasis teknologi. Implementasi Indonesia-EAEU FTA diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan,” jelas Airlangga.
Selain membahas sektor perdagangan, kedua pihak juga mendiskusikan rencana pembukaan penerbangan langsung antara Indonesia dan Belarus. Selain itu, kerja sama di bidang visa turut menjadi perhatian untuk meningkatkan mobilitas wisatawan maupun pelaku usaha.
Dalam upaya mempererat hubungan bilateral, kedua negara juga membicarakan rencana pembukaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Minsk.
Pada sektor industri strategis, Indonesia dan Belarus menjajaki peluang kerja sama di bidang kendaraan listrik, semikonduktor, hingga pasokan pupuk potash dari Belarus yang dikenal memiliki cadangan besar. Kolaborasi tersebut dinilai dapat mendukung penguatan industri hilir dan ketahanan pangan nasional.
Di bidang perdagangan, kedua negara turut membahas perkembangan ratifikasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Menlu Ryzhenkov menyampaikan bahwa parlemen Belarus telah meratifikasi perjanjian tersebut dan saat ini tinggal menunggu penandatanganan Presiden Belarus.
Sementara itu, Indonesia menargetkan proses ratifikasi dapat rampung pada paruh kedua 2026. Tak hanya itu, kedua negara juga membahas program pengiriman pelajar dan tenaga profesional Indonesia, termasuk tenaga kesehatan, ke berbagai institusi kesehatan di Belarus yang dinilai memiliki kualitas pendidikan dan layanan kesehatan yang baik.