Nasionalisme di Tengah Gempuran Teknologi, Agun Bakar Semangat Kebangsaan Mahasiswa Kuningan

Semangat nasionalisme dan karakter kebangsaan menjadi sorotan utama dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa bersama civitas akademika Universitas Islam Al Ihya Kuningan.

Di hadapan mahasiswa yang dikenal kritis dan adaptif terhadap perkembangan digital, Agun menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak akan berarti apabila generasi muda kehilangan karakter kebangsaan. Menurutnya, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan sekadar persaingan ekonomi dan teknologi, melainkan menjaga identitas nasional di tengah derasnya arus perubahan global.

“Saya memilih kampus ini karena mahasiswa di sini sudah mulai dikenal di Jakarta sebagai mahasiswa yang kritis dan berpikir era digital. Mereka adalah generasi Gen-Z yang punya kesiapan menghadapi zaman,” ujar Agun, Selasa (19/5).

Namun di balik kecanggihan teknologi dan derasnya arus informasi, Agun mengingatkan adanya ancaman yang lebih serius, yakni lunturnya nilai kebangsaan di kalangan generasi muda.

Ia menilai, tanpa fondasi Empat Pilar Kebangsaan, kemajuan hanya akan melahirkan generasi pintar secara intelektual tetapi rapuh secara karakter.

Politikus senior Partai Golkar itu sengaja membawa pendekatan berbeda dalam sosialisasi kali ini. Ia tidak hanya berbicara soal teori kebangsaan, tetapi mendorong mahasiswa menjadikan Pancasila sebagai cara pandang hidup sehari-hari.

Menurutnya, nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, hingga keadilan sosial tidak boleh berhenti sebagai hafalan di ruang kelas atau materi seminar.

Nilai-nilai itu, kata dia, harus hadir dalam pola pikir, ucapan, hingga perilaku mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau sumber daya manusia tidak punya karakter kebangsaan yang kuat, semuanya bisa berantakan lagi. Maka Pancasila harus menjadi cara pandang hidup, mulai dari pikiran, ucapan, sampai tindakan,” tegasnya.

Dalam narasi yang sarat pesan politis, Agun juga mengingatkan pentingnya disiplin dan kepatuhan terhadap aturan sebagai bagian dari proses membangun bangsa. Ia mencontohkan kehidupan kampus sebagai ruang pembentukan karakter, di mana mahasiswa harus memahami proses dan tahapan perjuangan.

“Tidak mungkin mahasiswa semester satu langsung meloncat ke semester empat. Semua ada prosesnya. Maka jaga korsa, jaga nama baik kampus, jaga nama baik Kuningan, karena itu juga bagian dari menjaga nama baik Indonesia,” katanya.

Ia juga menyinggung realitas sosial dan politik yang kerap memunculkan benturan akibat perbedaan cara pandang di tengah masyarakat. Namun menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan apabila generasi muda benar-benar memahami filosofi Bhinneka Tunggal Ika.

Bagi Agun, keberagaman adalah keniscayaan yang harus diterima sebagai kekuatan bangsa, bukan ancaman. Karena itu, mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis sebagai penjaga persatuan di tengah era digital yang rawan polarisasi dan pertarungan opini.

Melalui forum tersebut, Agun tampak ingin membakar semangat nasionalisme mahasiswa Kuningan agar tidak hanya menjadi generasi yang cakap teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran ideologis dan tanggung jawab kebangsaan yang kuat di tengah perubahan zaman.

Scroll to Top