Ketidakpastian geopolitik global, gangguan rantai pasok energi, hingga ancaman perubahan iklim dinilai menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi Indonesia. Karena itu, penguatan ketahanan energi dan ketahanan pangan menjadi agenda strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas nasional sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), TB Ace Hasan Syadzily, menegaskan Lemhannas mendukung penuh kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan nasional melalui peningkatan kemandirian di sektor energi dan pangan.
Menurut Ace, dinamika geopolitik dunia saat ini dipenuhi persaingan antarnegara yang berdampak langsung terhadap pasokan energi, inflasi global, hingga harga pangan internasional. Kondisi tersebut menuntut setiap negara memiliki daya tahan yang kuat agar tidak mudah terdampak gejolak eksternal.
“Situasi geopolitik global pasti akan memengaruhi rantai pasok dunia, termasuk harga pangan dan energi. Karena itu Indonesia harus memiliki kemampuan untuk mandiri sehingga mampu menghadapi tekanan global,” ujarnya, dikutip Senin, (13/7).
Swasembada Pangan Jadi Modal Strategis
Ace menyebut salah satu capaian penting pemerintah adalah keberhasilan menjaga ketahanan pangan nasional. Ia mengungkapkan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras pada akhir 2025 dengan produksi yang menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah nasional.
Namun demikian, ia mengingatkan tantangan ke depan masih sangat besar. Perubahan iklim, potensi fenomena El Nino, hingga risiko kekeringan dapat mengganggu produktivitas sektor pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, pemerintah perlu terus meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat sistem pangan nasional agar mampu menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul akibat perubahan iklim global.
Gejolak Timur Tengah Jadi Pengingat Pentingnya Kemandirian Energi
Di sektor energi, Ace menilai konflik geopolitik di Timur Tengah beberapa waktu lalu menjadi pelajaran penting mengenai rentannya pasokan energi global. Gangguan distribusi akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz menunjukkan bahwa Indonesia harus mempercepat langkah menuju kemandirian energi.
Meski terjadi tekanan terhadap rantai pasok energi internasional, pemerintah tetap mampu menjaga stabilitas harga bahan bakar bersubsidi sehingga tidak membebani masyarakat.
Ke depan, menurutnya, langkah strategis harus difokuskan pada peningkatan produksi energi dalam negeri, pengurangan ketergantungan impor, serta optimalisasi seluruh potensi sumber energi nasional.
“Potensi energi Indonesia sangat besar. Kita harus perlahan mengurangi substitusi impor melalui peningkatan produksi domestik dan pengembangan energi baru terbarukan,” katanya.
Optimalkan Energi Baru Terbarukan
Ace menilai Indonesia memiliki sumber daya energi baru dan terbarukan (EBT) yang sangat melimpah. Energi surya, tenaga air, panas bumi, hingga bioenergi merupakan modal besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati seperti biodiesel berbasis kelapa sawit sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.
Menurutnya, pengembangan green energy bukan hanya penting bagi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Ia menambahkan bahwa ketersediaan energi merupakan fondasi utama aktivitas ekonomi. Gangguan pasokan listrik maupun energi akan langsung berdampak terhadap sektor industri, manufaktur, hingga produktivitas nasional.
Hilirisasi dan Industrialisasi Harus Dipercepat
Dalam jangka menengah, Ace menekankan pentingnya percepatan hilirisasi dan industrialisasi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Ia menilai komoditas mineral, sektor pertanian, hingga potensi ekonomi kelautan harus diolah menjadi produk bernilai tinggi di dalam negeri sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat struktur industri nasional.
Selain itu, penguatan sektor manufaktur berbasis sumber daya domestik dinilai akan meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia ketika terjadi perlambatan ekonomi global.
“Kalau hilirisasi berjalan lebih cepat, nilai tambah akan dinikmati di dalam negeri sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi lebih kuat dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, Ace optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara maju apabila mampu mengelola kekayaan alam secara efektif dan dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Menurutnya, kombinasi antara melimpahnya sumber daya alam, bonus demografi, penguatan hilirisasi, ketahanan energi, ketahanan pangan, serta peningkatan kualitas SDM merupakan modal utama menuju visi Indonesia Emas 2045.
Seluruh agenda tersebut, lanjut Ace, juga sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan ketahanan pangan, ketahanan energi, ketahanan air, hilirisasi, reindustrialisasi, dan pembangunan SDM sebagai pilar utama penguatan ketahanan nasional.
“Kita harus optimistis. Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan didukung populasi yang besar. Jika dikelola dengan baik melalui hilirisasi, penguatan industri, serta peningkatan kualitas SDM, saya yakin itu akan menjadi kekuatan besar yang membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045,” pungkasnya.