Kementerian Perdagangan Fasilitasi Digitalisasi 6.870 Pasar Rakyat dan 300 Ribu Pedagang

Kementerian Perdagangan menargetkan fasilitasi digital bagi 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang di Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, dilansir dari Suara.

Program ini mencakup penerapan sistem pembayaran digital QRIS dan pelatihan penjualan daring bagi pedagang pasar rakyat.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyatakan bahwa tahun 2025 menjadi target pemberian fasilitasi digital kepada pasar rakyat dan pedagang tersebut.

“Kalau tercatat di data kita, ada sekitar, di tahun 2025 (target), ada sekitar 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang yang sudah kita berikan fasilitasi digital,” ujar Dyah Roro Esti.

Menurutnya, sistem pembayaran online seperti QRIS sudah diterapkan di pasar-pasar rakyat sehingga pedagang dapat melakukan transaksi secara digital.

“Baik itu melalui online payment system, jadi QRIS itu sudah masuk ke pasar-pasar. Payment system online itu sudah masuk ke pasar-pasar. Hingga kemudian memberikan pelatihan untuk para pedagang, selain mereka bisa berjualan seperti biasa, tapi mereka juga bisa berjualan secara online,” kata Dyah Roro Esti.

Penggunaan kanal digital ini memberi pilihan tambahan bagi pedagang untuk menjangkau konsumen secara langsung maupun melalui saluran online.

“Sehingga mereka bisa menembus berbagai jenis pasar, baik itu di pasar rakyatnya, tapi juga secara online mereka bisa berdagang,” jelasnya.

Dyah Roro Esti menilai pelaku usaha harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi agar dapat memanfaatkan peluang ekonomi yang ada.

“Memang ini adalah suatu hal yang suka tidak suka kita memang harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Harapannya, ini juga bisa menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang tentunya dibutuhkan,” ujarnya.

Kementerian Perdagangan juga menjalankan program lain seperti Export Coaching Program untuk membantu pelaku usaha mengakses pasar internasional dengan dukungan teknologi.

Dyah Roro Esti menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan akses dan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara merata.

“Dan kita akan selalu berupaya di pemerintah untuk kemudian memastikan bahwa AI dan teknologi yang semakin berkembang tidak membuat kesenjangan itu semakin lebar,” ujar Dyah Roro Esti.

Pelatihan menjadi salah satu metode yang diprioritaskan untuk membantu masyarakat dan pelaku usaha mengikuti perkembangan teknologi.

“Lalu kemudian, kita juga harus bisa memanfaatkannya untuk kemudian memastikan kesenjangan yang tadi disampaikan itu bisa semakin kecil. Melalui pelatihan-pelatihan yang kita bisa tawarkan,” pungkas Dyah Roro Esti.

Scroll to Top