Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang relawan gempa NTT bernama Ahmad Zaki Ali.
“Saya ingin mengucapkan turut berdukacita bagi salah satu pimpinan relawan, Pak Zaki, yang kemarin meninggal karena kecapekan,” kata Melki kepada wartawan di Bandar Udara Frans Seda, Maumere, NTT, Minggu (23/8/2026).
Melki mengatakan, Zaki meninggal dunia karena diduga kelelahan saat salurkan bantuan. Politikus Partai Golkar itu mengatakan Zaki merupakan sosok yang sigap dalam membantu masyarakat terdampak bencana gempa.
“Dia geraknya luar biasa, saya waktu ke Dampek tiga kali tahu betul pekerjaannya anak itu, karena dia kecapekan kemudian dia meninggal karena, saya dengar, karena jantung ya, kecapekan,” ungkapnya, dikutip dari Kompas.
Meninggal saat salurkan bantuan Sebelumnya Zaki bersama rekan-rekan relawan telah berada di Kabupaten Manggarai sejak Sabtu (15/8/2026). Mereka menggunakan Masjid Nurul Huda di Kampung Reo sebagai posko Relawan Gerak Bareng.
Pada Jumat siang itu, Zaki dan rekan-rekannya meninggalkan posko untuk menuju tempat pengungsian korban gempa. Mereka membawa sejumlah bantuan yang hendak disalurkan kepada para korban. Zaki saat itu bertugas sebagai pengemudi kendaraan. “Korban yang mengendarai kendaraan,” kata Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, Jumat.
Dalam perjalanan, founder Yayasan Komunitas Relawan Bergerak itu menghentikan laju kendaraannya. Ia kemudian meminta bantuan rekannya untuk melepaskan jaket dan helm yang dikenakannya. Tak lama setelah itu, Zaki kehilangan kesadaran.
Jenazah Ahmad Zaki kemudian diterbangkan dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ke Jakarta pada Sabtu (22/8/2026) siang. Zaki meninggal dunia sehari sebelumnya, Jumat (21/8/2026), saat hendak menyalurkan bantuan kepada korban gempa di Kabupaten Manggarai, NTT.