Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional tidak akan terdampak oleh kebijakan pengelolaan ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menurut Airlangga, pemerintah tetap mendorong hilirisasi industri baterai kendaraan listrik yang mencakup rantai produksi mulai dari konsentrat, prekursor, katoda, hingga anoda.

“Ekosistem EV adalah produk lebih hilir lagi mulai dari konsentrat, katoda, anoda sampai dengan prekursor. Nah itu tetap didorong karena ini adalah ekosistem yang sedang dibangun,” ujar Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Airlangga menjelaskan, komoditas yang menjadi perhatian dalam kebijakan terbaru pemerintah adalah feronikel (ferronickel), yang merupakan produk turunan awal dari pengolahan nikel.

Menurutnya, pengaturan tersebut berbeda dengan rantai industri baterai kendaraan listrik yang saat ini menjadi salah satu prioritas hilirisasi nasional.

“Yang tadi dibatasi adalah turunan proses pertamanya yaitu ferro nikel,” kata dia.

Menurut Airlangga, ruang lingkup komoditas ferroalloy yang diatur dalam kebijakan tersebut mengacu pada sejumlah kode Harmonized System (HS) tertentu yang mencakup berbagai jenis produk paduan besi.

“Jadi sudah dijelaskan bahwa komoditasnya berbasis kepada HS itu mulai dari 72021100 sampai 72029900. Jadi itu ada berbagai komoditas di sana,” kata Airlangga.

Sebelumnya, pemerintah mulai memperketat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis dengan menyiapkan mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Pada tahap awal, pemerintah akan menerapkan sistem tersebut untuk tiga komoditas utama, yakni batu bara, minyak kelapa sawit, dan ferroalloy. Ketiga komoditas tersebut memiliki peran besar dalam perdagangan Indonesia.

Scroll to Top