Ekspor Batik 2025 Naik 32,5%, Kemenperin Genjot Daya Saing IKM

Nilai ekspor produk batik Indonesia pada 2025 mencapai 20,14 juta dolar AS, meningkat 32,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 15,20 juta dolar AS.

Kinerja ekspor tersebut menjadi momentum bagi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) batik agar mampu memperluas pasar hingga tingkat global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, batik memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi yang besar sehingga pengembangannya perlu diarahkan pada peningkatan kualitas, inovasi, kapasitas produksi, serta akses pasar.

“Batik tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang perlu terus dikembangkan. Pemerintah berkomitmen memacu IKM batik agar mampu meningkatkan kualitas, melakukan inovasi, memperluas akses pasar, dan semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Meski ekspor sepanjang 2025 tumbuh, kinerja perdagangan batik pada 2026 masih menghadapi tantangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor komoditas batik pada triwulan II-2026 sebesar 4,39 juta dolar AS, turun 13,76 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 5,09 juta dolar AS.

Kondisi tersebut, menurut Kemenperin, menjadi pengingat pentingnya memperluas pangsa pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk batik Indonesia di pasar internasional.

Agus mengatakan, penguatan industri batik tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produksi, tetapi juga dengan memperkuat ekosistem industri, mulai dari pelestarian budaya, pengembangan sumber daya manusia, inovasi produk hingga promosi dan perluasan akses pasar.

Berdasarkan data Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), terdapat 3.196 unit usaha batik di Indonesia yang terdiri atas 1.794 industri mikro, 815 industri kecil, 342 industri menengah, dan 208 industri besar.

Scroll to Top