GAYO LUES – Terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Gayo Lues periode 2026–2031, Deddy Yopiansyah menghadapi pekerjaan besar untuk membuktikan bahwa dukungan penuh dalam Musyawarah Daerah (Musda) VI dapat diterjemahkan menjadi kekuatan politik hingga tingkat desa.
Aklamasi yang mengantarkan Deddy memimpin Golkar Gayo Lues bukan sekadar penetapan ketua baru. Dukungan seluruh pemilik suara, yang terdiri atas pengurus kecamatan dan organisasi sayap partai, sekaligus menempatkan kepengurusan baru pada harapan untuk menjaga soliditas internal dan memperluas kekuatan organisasi.
Deddy menyadari bahwa mandat tersebut tidak cukup dijalankan melalui konsolidasi di tingkat kabupaten. Ia berjanji membawa Golkar hadir hingga pelosok Gayo Lues, merangkul seluruh kader tanpa membedakan kelompok, serta membangun struktur partai sampai tingkat desa.
“Terima kasih kami ucapkan kepada semua rekan-rekan yang sudah memberikan amanah ini. Amanah yang dititipkan ini akan saya jaga dengan sebaik-baiknya dan juga akan dikembangkan di seluruh pelosok Gayo Lues,” kata Deddy dalam Musda VI DPD II Golkar Gayo Lues di Hotel Legen, Blangkejeren, Kamis (29/10/2026).
Pernyataan itu menjadi salah satu janji utama kepemimpinannya. Deddy tidak hanya dituntut menjaga kepercayaan para pemilik suara yang telah mendukungnya, tetapi juga memastikan Golkar memiliki jangkauan organisasi yang lebih luas dan mampu bekerja hingga ke masyarakat di tingkat akar rumput.
Ia menegaskan, kepengurusan baru tidak boleh terjebak dalam pengelompokan kader berdasarkan dukungan selama Musda. Menurutnya, seluruh elemen partai harus kembali berada dalam satu barisan untuk membangun kekuatan Golkar menghadapi agenda politik mendatang.
“Musda ini bukan akhir suatu pekerjaan, tetapi awal dari kerja besar. Saya akan merangkul semua pihak dan tidak ada kubu-kubuan. Golkar Gayo Lues harus solid, besar dan menang di tahun 2029,” tegasnya.
Janji tidak adanya kubu-kubuan menjadi penting setelah proses pemilihan berlangsung secara aklamasi. Dukungan bulat memang memberikan legitimasi politik kepada ketua terpilih, tetapi keberhasilan kepemimpinan tetap akan ditentukan oleh kemampuannya menjaga kebersamaan dan mengubah dukungan tersebut menjadi kerja organisasi.
Dalam konteks itu, Deddy menempatkan penguatan struktur partai hingga tingkat desa sebagai prioritas. Ia juga berencana mengaktifkan kembali organisasi sayap Golkar dan memperkuat kaderisasi, terutama melalui penyiapan kader muda potensial.
“Program prioritas ke depan adalah penguatan struktur hingga tingkat desa, pengaktifan organisasi sayap, serta penyiapan kader-kader muda potensial. Tentu ini membutuhkan dukungan dari semua pihak,” ujarnya.
Rencana tersebut memperlihatkan bahwa Deddy ingin membangun kekuatan Golkar melalui tiga jalur sekaligus: memperluas struktur organisasi, menghidupkan kembali mesin partai melalui organisasi sayap, dan menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
Penguatan hingga tingkat desa menjadi pekerjaan mendasar karena keberadaan partai tidak cukup hanya terlihat saat Musda atau menjelang pemilihan umum. Struktur yang aktif diperlukan untuk menjaga komunikasi dengan masyarakat, menghimpun aspirasi, sekaligus memastikan kader memiliki peran dalam kehidupan sosial dan politik di wilayahnya.
Sementara itu, pengaktifan organisasi sayap dan kaderisasi dapat menjadi instrumen untuk memperluas keterlibatan kelompok masyarakat serta menyiapkan generasi baru di tubuh partai. Namun, seluruh rencana tersebut membutuhkan kerja berkelanjutan dan dukungan dari struktur Golkar di berbagai tingkatan.
Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, M. Salim Fakhry, melalui Wakil Ketua Bidang Organisasi Partai Golkar Aceh, Islamuddin, menyampaikan ucapan selamat kepada Deddy sekaligus meminta kepengurusan baru segera melakukan konsolidasi.
Islamuddin menegaskan bahwa proses pemilihan dalam Musda VI berlangsung tanpa intervensi dan mengikuti mekanisme organisasi.
“Selamat kepada Deddy Yopiansyah. Kami tegaskan sejak awal tidak ada intervensi. Semua berjalan secara demokratis sesuai AD/ART,” kata Islamuddin.
Ia mengingatkan bahwa tantangan utama kepengurusan baru adalah membangun soliditas partai hingga tingkat desa dan mempersiapkan Golkar menghadapi agenda politik pada 2029.
“Tentu tugas berat sudah menanti, konsolidasikan partai hingga ke desa dan target kemenangan pada Pemilu mendatang,” tegas Islamuddin.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan kepemimpinan Deddy dalam kerangka target politik yang lebih luas. Setelah memperoleh dukungan aklamasi, ia harus memastikan Golkar Gayo Lues memiliki organisasi yang solid, kader yang aktif, dan kesiapan menghadapi persaingan Pemilu 2029.
Aklamasi dalam Musda VI menjadi modal awal bagi Deddy untuk menjalankan agenda tersebut. Dukungan seluruh pemilik suara dapat menjadi kekuatan konsolidasi apabila diteruskan dengan pembagian peran yang jelas dan keterlibatan seluruh kader.
Namun, tantangan sesungguhnya berada setelah Musda berakhir. Janji merangkul semua pihak harus diwujudkan dalam kepengurusan yang inklusif, sementara target membesarkan partai hingga pelosok Gayo Lues membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar penguatan struktur di atas kertas.
Dengan masa kepemimpinan lima tahun, Deddy memiliki waktu untuk membuktikan bahwa dukungan bulat yang mengantarkannya menjadi ketua dapat menjadi fondasi bagi Golkar Gayo Lues untuk tumbuh lebih kuat. Ukuran keberhasilannya bukan hanya soliditas setelah aklamasi, melainkan kemampuan menjaga persatuan, memperluas basis kader, dan membawa partai bersaing untuk meraih kemenangan pada 2029.