Program besar Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 Gigawatt peak (GWp) yang ditargetkan rampung dalam kurun waktu tiga tahun ke depan didukung Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI, Bambang Patijaya.
Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk nyata komitmen Indonesia terhadap transisi energi sekaligus upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Bambang Patijaya menyoroti bahwa saat ini Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Secara nasional, kapasitas PLTD mencapai sekitar 12 GW dengan konsumsi BBM mencapai 4,2 juta kiloliter per tahun.
“Ini kalau kita rupiahkan dengan kondisi sekarang ini kurang lebih sekitar 80 triliun lebih. Nah, dengan menggunakan PLTS tentu biaya-biaya seperti ini akan terhindarkan,” ujar Bambang Patijaya, dalam wawancara siaran langsung di MetroTV, Rabu (26/8/2026).
Meskipun target tiga tahun dianggap sangat ambisius, Bambang Patijaya optimis bahwa target tersebut dapat dikelola dengan baik.
Ia mengakui adanya tantangan besar, terutama karena sebelumnya PLN hanya menargetkan 17 GW PLTS hingga tahun 2034 dalam RUPTL-nya, namun kini target tersebut diintegrasikan dan dipercepat menjadi bagian dari 100 GWp pada tahun 2029,.
“Ini challenging ya. Ini challenging bahwa program pemerintah ini sesuatu yang memang challenging untuk dapat kita laksanakan. Tetapi ini menurut saya manageable,” ungkapnya.
Terkait kekhawatiran mengenai kapasitas produksi panel surya dalam negeri yang saat ini baru mencapai 10-15 GW per tahun, sementara kebutuhan rata-rata mencapai 30 GW per tahun, Bambang menilai hal tersebut justru akan menjadi pemantik investasi.
Terlebih lagi, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) industri panel surya saat ini sudah hampir menyentuh angka 40 persen.
Bambang Patijaya menekankan bahwa kunci kesuksesan program ini bukan hanya pada pengadaan panel surya, melainkan juga pada penyediaan lahan.
Ia mendorong adanya campur tangan pemerintah pusat dan daerah, seperti yang telah dilakukan di Bali,.
“Terkait dengan pengadaan lahan ini juga perlu campur tangan pemerintah, untuk kasus misalkan yang kemarin ada di Bali, ini kan Gubernur Bali sudah menyatakan penyediaan lahan atas 321 hektar,” jelasnya.
Menanggapi usulan para ahli agar proyek 100 GW ini dijadikan Proyek Strategis Nasional (PSN), Bambang Patijaya menilai hal tersebut sebagai ide yang sangat bagus untuk mempermudah koordinasi dan mempercepat proses di lapangan.
Dengan skema PSN, pemerintah dapat lebih fokus menangani integrasi sistem kelistrikan (grid) yang selama ini masih didominasi oleh PLTU.
“PSN ini kan dia per spot, tetapi tentu pemerintah bisa memilih pada titik-titik mana yang akan difavoritkan untuk pengembangan ini sehingga tercapai dengan total 100 GWp tersebut,” pungkas Bambang.
Kurangi Ketergantungan Impor BBM
Presiden RI Prabowo Subianto baru saja meresmikan pembangunan alias peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas 100 Giga Watt peak (GWp), Selasa (25/8/2026) di Kabupaten Jembrana, Bali.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan, proyek PLTS dalam skala raksasa tersebut diharapkan menjadi solusi utama untuk menghentikan seluruh impor minyak mentah dan LPG yang selama ini membebani devisa negara.
“Ya benar saya tidak mau banyak bicara, tapi intinya 100 Giga Watt kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak akan takut perkembangan apa pun di bagian mana pun dunia dan dengan 100 Giga Watt, dengan geothermal yang kita punya dengan ladang-ladang gas yang kita sudah temukan dengan lifting minyak yang harus naik terus ya kita tidak boleh impor lagi satu barrel pun minyak. Kita tidak boleh impor lagi insya Allah dalam waktu sesingkat-singkatnya satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi,” ungkap Prabowo dalam peresmian Program PLTS 100 GWp di Bali, Selasa (25/8/2026) seperti dikutip dari cnbcindonesia.com.
Presiden mengatakan bahwa target pembangunan 100 GWp tersebut harus tuntas dalam waktu singkat untuk mengurangi ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang digunakan sebagai energi pembangkit listrik.
Ia pun memberikan tantangan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mempercepat realisasi proyek tersebut lebih cepat dari rencana semula. Prabowo menargetkan program 100 GWp PLTS ini bisa direalisasikan sebelum tiga tahun.
“Terima kasih semua unsur hari ini hari penting kita launching dan saya percaya mungkin kurang dari 3 tahun kita akan sampai 100 Giga Watt. Iya kan? ” ucapnya.
“Dulu swasembada pangan saya beri target empat tahun tim ekonomi tim pertanian tim pangan berhasil satu tahun. Berarti kalau saya kasih target tiga tahun untuk tim energi ya nggak lah, dua tahun lah ya,” tegasnya.
“Kalau berhasil 2 tahun, tim energi dapat bintang lagi aku kasih tanda kehormatan,” imbuhnya.