Bambang Patijaya berharap sidang PBB dorong perdamaian redakan harga minyak.

Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya berharap Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sedang berlangsung dapat mendorong tercapainya perdamaian sehingga ketegangan Iran-Amerika Serikat mereda dan tekanan terhadap harga minyak dunia berangsur turun.

“Seluruh shareholder, stakeholder yang ada di dunia ini itu lelah dan capek terkait dengan drama-drama yang ditimbulkan oleh Amerika dengan Iran ini,” kata Bambang Patijaya di Pangkalpinang, Senin (28/9).

Bambang mengatakan konflik geopolitik memiliki kaitan langsung dengan pergerakan harga minyak dunia. Semakin lama ketegangan berlangsung, semakin besar pula ketidakpastian yang membayangi pasar energi global.

Menurut dia, masyarakat internasional membutuhkan kesadaran bersama untuk menghentikan pertikaian dan menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan antarnegara.

“Kita berharap bahwa dari semua pertikaian yang ada itu akan mencapai satu keseimbangan baru, mencapai satu titik di mana kesadaran terhadap perdamaian dunia itu menjadi satu kesepakatan,” ujarnya.

Ia menyebut eskalasi konflik sebelumnya sempat mendorong harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel. Sementara rata-rata harga Indonesian Crude Price (ICP) sepanjang tahun berjalan, menurut dia, berada di kisaran 85-90 dolar AS per barel.

Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bangka Belitung itu berharap tercapainya perdamaian dapat meredakan tekanan terhadap harga minyak dunia yang sebelumnya sempat berada di sekitar 75 dolar AS per barel.

“Dengan adanya tercapainya suatu perdamaian dunia, kita berharap bahwa harga minyak dunia juga secara berangsur akan kembali membaik seperti terjadi pada dua bulan yang lalu, sempat menyentuh ke angka 75,” katanya.

Bambang mengatakan kenaikan ICP menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat menambah tekanan terhadap perekonomian dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun demikian, dia menilai kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi dampak kenaikan harga minyak.

“Bagi Indonesia sendiri ICP yang bergerak naik ke atas tentu memberikan beban. Tetapi sekali lagi saya sampaikan itu tidak mengurangi daripada kemampuan fundamental daripada APBN kita untuk mengatasi itu. Jadi APBN kita masih tangguh, APBN kita masih kuat,” ujarnya.

Di sisi lain, Bambang menilai konflik berkepanjangan juga dapat mempercepat proses transisi energi. Ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga minyak, kata dia, berpotensi mendorong penggunaan energi listrik di berbagai sektor.

“Ketika situasi ini berlarut-larut sebetulnya transisi energi itu akan lebih cepat kepada yang namanya elektrifikasi,” katanya.

Menurut Bambang, elektrifikasi akan berkembang pada sektor energi, transportasi hingga industri. Perkembangan kendaraan listrik yang semakin beragam, terjangkau dan efisien juga berpotensi mengubah pola permintaan minyak dunia.

Ia berharap ketegangan geopolitik tersebut tidak berlangsung berkepanjangan karena perdamaian tidak hanya penting bagi stabilitas politik global, tetapi juga bagi kestabilan pasar energi dunia.

“Mudah-mudahan ada satu keseimbangan yang dapat dicapai oleh dunia, kesadaran komunal terhadap yang namanya perdamaian dunia,” kata Bambang.

Scroll to Top