Bahlil Sebut PLTS 100 GWp Bikin Negara Hemat Rp 73,9 T per Tahun, Impor Solar Menurun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt peak (GWp) membuat negara berhemat sebesar Rp73,9 triliun per tahun dari pengurangan subsidi energi. Selain itu, PLTS 100 GWp ini juga menciptakan 5,52 juta lapangan kerja.

“Total investasinya dari 100 Gigawatt adalah kurang lebih sekitar USD 73 miliar, atau setara dengan Rp1.140 triliun lebih. Dari total ini, bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun Rp73,9 triliun dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja,” kata Bahlil, sebelum peresmian proyek PLTS 100 GWp di Bali, Selasa (25/8/2026).

Bahlil memaparkan, setelah program ini resmi masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027, pemerintah langsung melakukan percepatan proyek.

Proyek ini, kata Bahlil, diperlukan demi memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional, serta mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Untuk tahap awal, pemerintah melakukan groundbreaking proyek PLTS berkapasitas total 5,3 GWp. Khusus di Bali, kapasitas yang dibangun mencapai 1.000 megawatt (MW) dan dilengkapi dengan baterai penyimpanan energi.

Selain dampak ekonomi, Bahlil mengatakan, proyek tersebut juga berpotensi memberikan manfaat besar dalam menekan emisi karbon.

“Kalau ini mampu kita implementasikan semuanya, penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp6,31 triliun,” kata dia.

Bahlil menyebutkan program PLTS 100 GWp akan dilaksanakan secara masif dan diselesaikan dalam 3 tahun. Menurut dia, biaya pembangkitan listrik dari PLTS yang diluncurkan saat ini berkisar USD 5-6 sen per kilowatt hour (kWh), namun belum termasuk harga baterai.

“(Biaya) baterainya itu ditambah lagi. Baterainya tergantung mau 4 jam, mau 24 jam, itu harganya akan mengikuti lama daripada pemakaian baterai itu,” ucap Bahlil.

Sementara itu, pemerintah juga mendorong konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang selama ini masih bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Dengan kehadiran PLTS, maka impor BBM, khususnya solar, bakal berkurang.

“Jadi kalau ini (konversi PLTD ke PLTS) mampu kita bisa lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM kita khususnya jadi solar akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional,” imbuh Bahlil.

Scroll to Top