JAKARTA, investortrust.id — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman meski harga minyak dunia melonjak hingga menembus level US$ 120 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pemerintah juga menegaskan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan.
“Memang kalau kita melihat posisi harga minyak dunia sekarang sudah melampaui US$ 100 per barel. Inilah kondisi yang terjadi di global akibat perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS). Problem-nya kita sekarang bukan di stok, stok tak ada masalah, sudah ada semuanya,” ucap Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/10/2026).
Menurutnya, pemerintah saat ini fokus pada langkah mitigasi volatilitas harga energi global. Meski demikian, dia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak khawatir terhadap potensi perubahan harga BBM dalam waktu dekat.
“Kita akan melakukan langkah-langkah komprehensif. Namun, sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak perlu khawatir menyangkut harga. Sampai dengan Lebaran ini, insyaallah tidak ada kenaikan harga BBM subsidi,” ujarnya.
Bahlil memastikan keandalan pasokan energi nasional tetap terjaga selama periode Ramadan dan Idulfitri. Maka dari itu, dia meminta masyarakat untuk tidak melakukan panic buying.
“Pasokan enggak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya Idulfitri semuanya terjamin, gak ada masalah,” tegas dia.
Terkait lonjakan harga minyak dunia yang telah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN, Bahlil menyebut pemerintah akan melakukan komunikasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Keuangan guna membahas langkah kebijakan yang diperlukan.
“Kalau menyangkut ICP, itu nanti urusan pemerintah, itu pasti ada komunikasi dengan pemerintah,” sebut Bahlil.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama PT Pertamina (Persero) memastikan stok BBM nasional berada pada kisaran 20–23 hari konsumsi nasional, yang masih berada dalam batas aman sesuai standar operasional logistik energi Indonesia.
Meski pasokan relatif aman, pemerintah tetap memonitor ketat perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Eskalasi di kawasan tersebut dapat memicu volatilitas harga minyak internasional.