kompasiana – Ketika kabar peningkatan lifting minyak nasional mencapai 608 ribu barel per hari melampaui target APBN 2025 sebesar 605 ribu barel suasana optimisme mulai terasa di berbagai kalangan. Namun di balik angka itu, perhatian banyak pihak justru tertuju pada sosok Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang kini menuai pujian dari akademisi di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur.
Bagi para pakar, capaian ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan arah baru dalam tata kelola energi Indonesia arah yang dinilai muncul dari gaya kepemimpinan Bahlil yang berani mengambil langkah konkret di lapangan.
Gema Pujian dari Timur
Dalam diskusi publik bertajuk “Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dari Sudut Pandang Energi” di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sejumlah akademisi menyoroti capaian lifting minyak sebagai bukti kepemimpinan efektif di sektor energi.
Prof. Fredrik L. Benu, pakar energi dari Universitas Nusa Cendana (Undana), menyebut peningkatan lifting ini merupakan hasil kerja nyata Bahlil yang mampu menghidupkan kembali potensi dari sumur-sumur tua dan sumur rakyat.
“Kita naik dari sekitar 600 ribu jadi hampir 700 ribu barel. Itu antara lain dengan memaksimalkan sumur-sumur yang sudah ada dan juga sumur-sumur baru,” ujarnya.
Menurut Fredrik, kebijakan itu menunjukkan bahwa Bahlil memahami akar persoalan energi Indonesia: bukan semata kekurangan sumber daya, melainkan kurangnya optimalisasi sumber daya yang sudah ada. Langkah Bahlil untuk menata dan mendata kembali sumur rakyat menjadi bukti bahwa pendekatannya tidak hanya strategis di atas kertas, tapi juga membumi di lapangan.
“Kalau ini konsisten dijalankan, saya optimistis produksi minyak bisa tembus 1 juta barel per hari. Potensinya besar, tinggal bagaimana menjaga keberlanjutan program yang sudah dimulai,” tambah Fredrik penuh keyakinan.
Pujian itu tak berhenti di situ. Dr. Frits Fanggidae, ekonom dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, memuji arah kebijakan Bahlil yang dinilainya mampu menghubungkan aspek energi dengan kekuatan ekonomi nasional.
“Lifting itu bukan sekadar angka teknis. Itu mencerminkan kekuatan ekonomi. Kalau lifting naik, berarti kapasitas produksi juga naik, dan itu berdampak langsung ke ekonomi nasional,” ujarnya.
Bagi Frits, keberhasilan ini menandai titik balik dari kebijakan energi yang selama ini cenderung berorientasi pada impor. “Kalau kebijakan seperti ini terus dijaga, maka ketahanan energi akan semakin kuat. Dan yang lebih penting, rakyat ikut merasakan manfaatnya,” katanya.
Sementara Prof. Dr. David B. W. Pandie, pakar kebijakan publik dari Kupang, menilai langkah Bahlil membawa sektor energi ke jalur yang strategis dan berimbang. “Energi adalah fondasi kehidupan. Menjaga pasokan energi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal stabilitas nasional,” ujar David.
Ia menilai Bahlil berhasil menyelaraskan antara peningkatan lifting minyak dengan agenda transisi energi nasional. “Ini pendekatan yang tidak ekstrem. Pemerintah tidak mengabaikan transisi energi, tapi juga tidak membiarkan sektor fosil terabaikan. Dua-duanya berjalan beriringan. Itu kebijakan yang matang,” tambahnya.
Efek Domino dari Kepercayaan Akademisi
Deretan pujian dari kalangan akademisi di NTT ini memberi dampak penting bagi posisi Bahlil di pemerintahan. Di tahun pertamanya menjabat Menteri ESDM, reputasinya kini semakin menguat bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai manajer energi nasional yang memahami teknis dan strategi industri.
Citra Bahlil sebagai sosok pekerja lapangan makin menonjol. Ia tidak hanya hadir di balik meja rapat, tetapi turun langsung memantau kondisi sumur-sumur tua, berbicara dengan para pekerja, dan memastikan bahwa kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh akar persoalan produksi energi.
Pujian dari akademisi juga menambah legitimasi moral terhadap langkah-langkahnya yang kerap disebut “progresif” dan “tidak birokratis.” Dalam dunia energi yang kompleks dan penuh tantangan, dukungan ilmiah seperti ini menjadi bentuk penguatan terhadap kebijakan pemerintah.
Kepercayaan akademisi terhadap Bahlil juga menjadi sinyal penting bagi dunia industri dan investor. Ketika komunitas akademik percaya, maka sektor swasta juga akan melihat kestabilan kebijakan. Itu penting untuk menarik investasi baru, terutama di sektor eksplorasi dan pengolahan energit.
Kepemimpinan yang Menular Optimisme
Bahlil sendiri dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang cepat, tegas, dan komunikatif. Ia membawa cara kerja yang sebelumnya teruji di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ke lingkungan ESDM yang lebih teknis. Pendekatan berbasis hasil bukan wacana menjadi ciri khasnya.
Hasilnya mulai terlihat. Target lifting tercapai lebih awal, koordinasi lintas lembaga berjalan lebih cepat, dan program energi terbarukan mendapat dorongan nyata. Di berbagai kesempatan, Bahlil selalu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara energi fosil dan EBT sebagai fondasi menuju kemandirian energi nasional.
“Transisi energi itu penting, tapi pasokan energi harus tetap aman. Kita tidak bisa bicara hijau kalau pabrik mati karena kekurangan bahan bakar,” katanya dalam salah satu pernyataannya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Pernyataan itu menggambarkan pendekatan realistis yang kini mendapat sambutan luas dari kalangan akademik dan industri. Dalam pandangan mereka, Bahlil bukan hanya memahami teori kebijakan, tapi juga membaca realitas industri energi secara utuh.
Momentum Baru Energi Indonesia
Kini, di tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran, Bahlil mulai dipandang sebagai figur kunci dalam transformasi energi nasional. Capaian lifting minyak yang menembus 608 ribu barel per hari bukan hanya prestasi teknis, tapi juga simbol bahwa Indonesia sedang bangkit di sektor energi.
Pujian dari berbagai pakar di Kupang menjadi cermin bahwa kepercayaan publik terhadap arah kebijakan energi mulai terbentuk. Dalam lanskap pemerintahan yang menuntut hasil cepat dan konkret, kehadiran Bahlil dengan program-program seperti penataan sumur rakyat, eksplorasi baru, dan penguatan EBT, menandai era baru kepemimpinan energi yang optimistis dan terukur.
“Roadmap-nya bagus. Ini baru tahun pertama dan sudah kelihatan hasilnya,” kata Prof. Fredrik menutup diskusi di Kupang dengan nada penuh keyakinan.
Dan mungkin, di antara segala pujian itu, satu hal menjadi jelas: Bahlil Lahadalia kini bukan hanya menteri, tapi juga simbol optimisme baru di sektor energi seorang teknokrat-politisi yang mampu menjembatani antara visi besar negara dan kerja nyata di lapangan.