Bahlil Genjot Blok Masela, Investasi Berpotensi Tembus Rp300 Triliun

Pemerintah mempercepat pengembangan proyek strategis Blok Masela sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi pemain utama gas dunia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proyek tersebut saat ini memiliki nilai investasi awal sebesar US$20,9 miliar dan berpotensi meningkat seiring dinamika geopolitik global.

“Total proyek Blok Masela saat ini US$20,9 miliar. Namun dengan perkembangan geopolitik, kemungkinan besar nilainya bisa meningkat hingga sekitar Rp300 triliun lebih saat implementasi,” ujar Bahlil dalam keterangan pers di Tokyo, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, percepatan proyek ini menjadi prioritas langsung Presiden Prabowo Subianto, mengingat peran strategis Blok Masela sebagai salah satu lapangan migas raksasa dengan potensi produksi mencapai 1.200 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day).

Dalam industri minyak dan gas bumi, istilah ini digunakan sebagai satuan untuk mengukur laju aliran gas alam. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah Juta Standar Kaki Kubik per Hari.

“Kalau proyek ini berjalan cepat, ketahanan energi nasional di sektor migas akan semakin kuat dan Indonesia bisa menjadi salah satu pemain gas dunia,” katanya.

BACA JUGA Dorong FID Blok Masela, Danantara Siap jadi Offtaker Perusahaan Global Siap Tampung LNG Masela SKK Migas Targetkan Jual-beli LNG Masela Deal Habis Lebaran

Bahlil menambahkan, pemerintah menargetkan proses tender engineering, procurement, and construction (EPC) dimulai pada 2026, bersamaan dengan penyelesaian keputusan investasi final (final investment decision/FID).

Selain itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi pasar domestik untuk hasil produksi gas. Ia menyebut kemungkinan keterlibatan entitas nasional dalam menyerap produksi, termasuk melalui penguatan hilirisasi.

“Kita minta kalau pasar luar belum sepenuhnya jelas, bisa diserap dalam negeri untuk memperkuat hilirisasi,” ujarnya.

Di sisi lain, Bahlil menegaskan bahwa percepatan Blok Masela berjalan seiring dengan agenda transisi energi. Pemerintah tetap mendorong pengembangan energi baru terbarukan seperti panas bumi, tenaga air, surya, dan angin.

“Geopolitik global tidak pasti, jadi semua potensi energi—geothermal, air, matahari, angin—selama teknologinya tersedia dan efisien, akan kita dorong,” katanya.

Dia juga menegaskan bahwa tingginya minat investasi di sektor energi mencerminkan kepercayaan global terhadap Indonesia yang semakin kuat.

Dengan percepatan proyek Blok Masela dan penguatan energi terbarukan, pemerintah optimistis dapat menjaga keseimbangan antara ketahanan energi jangka pendek dan transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

“Kepercayaan internasional terhadap Indonesia semakin solid, ini terlihat dari besarnya komitmen investasi yang masuk,” tandas Bahlil.

Scroll to Top