Bahlil Dorong DME dan CNG untuk Perkuat Kemandirian Energi Nasional

Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendorong pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

Bahlil mengatakan, kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai sekitar 11–12 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri masih berada di kisaran 1,8 juta ton per tahun. Kondisi tersebut membuat sebagian besar kebutuhan LPG masih harus dipenuhi melalui impor.

“Memang sekarang untuk gas (alam) kita tidak impor. Tapi yang masih kita impor gas berbentuk LPG. Indonesia masih 80% impor LPG,” kata Bahlil saat membuka FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Menurut Bahlil, kebutuhan LPG akan semakin besar seiring kebutuhan sektor industri. Konsumsi nasional berada di kisaran 8,5 juta ton per tahun, sementara kebutuhan tambahan untuk industri petrokimia seperti Lotte dan Chandra Asri mencapai sekitar 3 juta ton.

“Total kebutuhan sekarang, misal untuk Lotte totalnya 8,5 juta ton. Untuk Lotte dan Chandra Asri itu butuh tambahan 3 juta ton. Jadi memang kita lagi membutuhkan kurang lebih sekitar 11–12 juta ton per tahun untuk LPG,” terang Bahlil.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut sekaligus mengurangi porsi impor, pemerintah tengah menyiapkan alternatif energi melalui pengembangan DME berbasis batu bara berkalori rendah serta pemanfaatan CNG.

“Jadi kita lagi konversi sebagian, ada sebagian kita bikin DME dengan batu bara low calorie dan sekarang lagi kita mendorong untuk CNG,” ujar Bahlil.

Pengembangan CNG menjadi salah satu opsi yang terus diuji untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik. Pemerintah saat ini tengah melakukan pengujian CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram sebelum pemanfaatannya dikembangkan lebih luas.

“Untuk CNG tabung 3 kg masih dalam uji coba dan ini belum selesai uji cobanya,” imbuhnya.

Uji coba tersebut dilakukan untuk memastikan aspek teknis dan kesiapan CNG sebagai salah satu alternatif LPG bagi masyarakat. Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah mengoptimalkan sumber energi dalam negeri.

Kementerian ESDM telah memulai pengujian tabung CNG 3 kilogram melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Hasil pengujian menjadi salah satu tahapan penting sebelum pemanfaatan CNG dapat dikembangkan secara lebih luas.

Melalui pengembangan DME dan CNG, pemerintah berupaya memperluas pilihan sumber energi domestik sekaligus secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor dan memperkuat kemandirian energi nasional.

Scroll to Top