Bahlil Dijuluki Pangeran Hormuz, Idrus: Bukti Pengakuan Kinerja Di Sektor Energi

Julukan “Pangeran Hormuz” yang disematkan publik kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kian ramai diperbincangkan. Sebutan itu dikaitkan dengan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan global.

Di saat banyak negara menaikkan harga energi akibat gejolak geopolitik, Indonesia justru menahan harga BBM. Per 1 April 2026, harga Pertalite tetap di Rp10.000 per liter. Jenis BBM lain juga tidak mengalami penyesuaian signifikan.

Istilah “Pangeran Hormuz” merujuk pada Selat Hormuz, jalur distribusi minyak dunia yang kerap menjadi titik panas. Lebih dari 20 persen pasokan minyak global melintasi kawasan tersebut.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham menilai, julukan itu bukan sekadar viral. Ia menyebutnya sebagai bentuk pengakuan publik atas kinerja pemerintah, khususnya di sektor energi.

“Julukan itu adalah ekspresi kolektif publik. Ini pengakuan atas kapasitas dan ketegasan dalam mengelola tekanan global,” ujar Idrus, di Jakarta.

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, pemerintah mampu menjaga stabilitas dalam negeri. Hal ini dinilai tidak lepas dari kepemimpinan yang strategis.

“Ketika dunia menghadapi tekanan geopolitik dan harga minyak berfluktuasi, Indonesia tetap stabil. Ini hasil kebijakan yang terukur,” katanya.

Idrus menyebut Bahlil berperan sebagai peredam gejolak global di sektor energi. Pemerintah, kata dia, hadir untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Negara tidak membiarkan rakyat menanggung beban sendirian,” ucapnya.

Ia juga menilai kebijakan menahan harga BBM merupakan langkah berani. Jika mengikuti mekanisme pasar, harga berpotensi naik.

“Yang dilakukan justru melindungi masyarakat. Ini keberpihakan yang jelas,” tegas Idrus.

Sejumlah laporan internasional mencatat harga minyak dunia sempat meningkat akibat tensi di Timur Tengah. Banyak negara menyesuaikan harga energi domestik.

Namun Indonesia memilih menjaga stabilitas. Idrus menilai langkah ini memperkuat persepsi publik terhadap kepemimpinan energi nasional.

“Ini menunjukkan Indonesia mampu mengelola risiko global,” ujarnya.

Ia berharap kepercayaan publik tersebut dapat terus dijaga. Menurutnya, stabilitas energi menjadi kunci menghadapi tantangan global ke depan.

Dengan kondisi tersebut, julukan “Pangeran Hormuz” dinilai tak sekadar tren di media sosial. Istilah itu mulai dipandang sebagai simbol kepemimpinan energi Indonesia di tengah krisis global.

Scroll to Top