Ace Hasan: Generasi Muda Harus Padukan Kesadaran Sejarah, Geopolitik, dan Kecerdasan Digital

Jakarta — Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Ace Hasan Syadzily menilai semangat Sumpah Pemuda tetap relevan sebagai fondasi bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari persaingan geopolitik, perang informasi, fragmentasi ekonomi global, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dalam tulisannya bertajuk Sumpah Pemuda, Kesadaran Geopolitik dan Generasi AI, Ace melihat Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi momentum penting ketika para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang membangun kesadaran bersama untuk membayangkan Indonesia sebagai satu bangsa dengan tujuan dan masa depan yang sama.

Ia merujuk pemikiran Indonesianis Benedict Anderson mengenai imagined community atau komunitas yang dibayangkan untuk menggambarkan bagaimana kesamaan pikiran, perasaan, dan cita-cita mampu melahirkan kehendak hidup bersama dalam satu kesatuan politik.

Kesadaran kebangsaan tersebut kemudian menjadi fondasi bagi tujuan nasional Indonesia, yakni melindungi segenap rakyat, memakmurkan kehidupan masyarakat, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta turut menciptakan perdamaian dunia.

Namun, menurut Ace, generasi muda hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan pemuda 1928. Jika generasi pada masa itu berjuang menyatukan bangsa di tengah kolonialisme, generasi saat ini tumbuh dalam dunia yang dibentuk oleh rivalitas kekuatan besar, perubahan geopolitik, disrupsi teknologi, perang informasi, hingga perkembangan AI yang sangat cepat.

Di satu sisi, generasi muda memiliki keunggulan besar karena mampu mengakses informasi, berkomunikasi lintas negara, dan memanfaatkan teknologi secara lebih cepat. Namun, derasnya arus informasi juga membawa risiko berupa hoaks, manipulasi opini, polarisasi, kebocoran data, hingga penggunaan AI tanpa proses verifikasi yang memadai.

Ace menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi persatuan dan ketahanan nasional apabila tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang kuat.

Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi melalui media sosial dapat memperbesar ketegangan sosial, mempertajam polarisasi, serta memengaruhi opini publik. Dalam konteks geopolitik, media sosial dan AI bahkan dapat digunakan untuk membentuk persepsi, mengikis kepercayaan publik, serta mengaburkan kepentingan nasional.

Karena itu, Ace menilai bela negara pada era digital tidak lagi hanya dimaknai dalam konteks pertahanan fisik, tetapi juga mencakup kemampuan menjaga ruang informasi, melindungi data pribadi, memperkuat literasi digital, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

“Tanpa fondasi sejarah, nilai-nilai Pancasila, dan literasi digital yang kuat, generasi muda dapat semakin terhubung dengan dunia, tetapi menjauh dari akar kebangsaannya,” tulis Ace.

Ia menilai Indonesia membutuhkan generasi yang cakap secara digital dan memiliki wawasan global, tetapi tetap berakar kuat pada identitas nasional. Kemampuan tersebut penting untuk memperkokoh persatuan, ketahanan, dan stabilitas nasional di tengah perubahan dunia.

Ace menguraikan sedikitnya tiga langkah strategis yang perlu diperkuat untuk membangun ketahanan nasional melalui generasi muda.

Pertama, pendidikan kebangsaan perlu direvitalisasi melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan visioner. Pancasila, sejarah perjuangan bangsa, dan Wawasan Nusantara tidak cukup hanya dipahami secara normatif, tetapi harus dikaitkan dengan persoalan aktual.

Persoalan tersebut mencakup rivalitas kekuatan besar, keamanan energi dan pangan, kedaulatan digital, perubahan iklim, hingga masa depan demokrasi.

Kasus video palsu berbasis AI dalam kontestasi politik maupun kebocoran data pribadi, menurutnya, dapat menjadi contoh pembelajaran yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Mereka perlu didorong untuk menganalisis persoalan, berdiskusi, dan memahami hubungan antara perubahan global dengan kepentingan nasional.

Kedua, Ace mendorong pembangunan literasi geopolitik dan kecerdasan digital secara terpadu.

Dunia pendidikan, komunitas pemuda, media, dan pemerintah dinilai perlu memperluas ruang pembelajaran yang melatih kemampuan memverifikasi informasi, berpikir kritis, memahami hubungan internasional, serta menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Literasi digital juga perlu mencakup kebiasaan memeriksa sumber informasi, mengenali konten sintetis, menggunakan autentikasi berlapis, memahami izin aplikasi, serta menjaga data pribadi.

Tujuannya bukan membentuk generasi yang menutup diri terhadap dunia luar, melainkan generasi yang terbuka, cerdas, serta tidak mudah dimanipulasi oleh arus informasi maupun kepentingan tertentu.

Ketiga, Ace mendorong generasi muda bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi pencipta atau creator teknologi sekaligus pelaku pembangunan bangsa.

Penguasaan AI, keamanan siber, analisis data, dan inovasi perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas nasional. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi aplikasi dan perangkat teknologi asing.

“Kemandirian strategis tidak berarti menutup diri dari kerja sama internasional, tetapi memastikan bahwa keterbukaan tidak berubah menjadi ketergantungan yang melemahkan kemampuan Indonesia menentukan masa depannya sendiri,” tulis Ace.

Ia menilai ketahanan nasional bukan hanya kemampuan menghadapi ancaman, tetapi juga kemampuan bangsa menjaga jati diri, beradaptasi, serta bertransformasi di tengah ketidakpastian.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya membutuhkan generasi yang mahir menggunakan teknologi. Generasi muda juga harus mampu memahami kepentingan nasional dan menanamkan nilai persatuan serta keberagaman dalam pengembangan maupun pemanfaatan teknologi.

“Indonesia tidak cukup membutuhkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu membangun algoritma kebangsaan, menanamkan nilai persatuan, keberagaman, dan kepentingan nasional dalam pengembangan serta pemanfaatan teknologi,” tulis Ace.

Menurutnya, kemampuan memverifikasi informasi, melindungi data, menggunakan AI secara bertanggung jawab, membangun nalar kritis, serta mengembangkan teknologi untuk kepentingan bangsa merupakan bentuk nyata tanggung jawab kebangsaan di era digital.

Jika pemuda 1928 mempersatukan bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaan, Ace menilai generasi muda hari ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan Indonesia melalui perpaduan kesadaran sejarah, wawasan kebangsaan, kecerdasan digital, dan pemahaman geopolitik.

Sumpah Pemuda, menurut Ace, harus menjadi energi masa depan yang tetap mengakar kuat pada sejarah, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta teguh menjaga persatuan dan kepentingan nasional.

Sumber: Diolah dan ditulis ulang berdasarkan artikel Kompas.id “Sumpah Pemuda, Kesadaran Geopolitik dan Generasi AI” karya Ace Hasan Syadzily, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI.

Scroll to Top