Kalimantan Timur — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan penerimaan gas Jangkrik North East #6 (JNE#6) dan fasilitas produksi Lapangan Maha-South Hub di lepas pantai Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).
Kedua proyek tersebut diproyeksikan menambah produksi gas nasional sekitar 290 juta kaki kubik standar per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD) setelah Lapangan Maha mulai mengalirkan gas pada akhir Oktober 2026.
“Ini adalah bentuk keseriusan pemerintah dan seluruh perusahaan, terutama Searah dan Eni, dalam mewujudkan Asta Cita Bapak Presiden, di mana salah satu di antaranya adalah mewujudkan kedaulatan energi,” ujar Bahlil.
Tambahan produksi tersebut berasal dari JNE#6 sekitar 60 MMSCFD dan Lapangan Maha sekitar 230 MMSCFD. Dengan produksi eksisting sekitar 450 MMSCFD, total produksi diproyeksikan mencapai sekitar 750 MMSCFD pada 1 November 2026.
“Ada penambahan 60 MMSCFD dan dari Blok Maha sekitar 230 MMSCFD. Jadi, totalnya kurang lebih sekitar 290 MMSCFD. Dengan demikian, produksi existing mereka yang saat ini sebesar 450 MMSCFD ditambah 290 MMSCFD, maka pada 1 November mendatang sudah bisa mencapai 750 MMSCFD,” jelas Bahlil.
Pengembangan JNE#6 juga menunjukkan peningkatan produksi signifikan setelah dilakukan pengeboran cabang baru atau side-tracking. Sejak 9 Oktober 2026, produksi gas meningkat lebih dari lima kali lipat, dari sekitar 10 MMSCFD menjadi 56 MMSCFD.
Keberhasilan tersebut turut menambah estimasi cadangan gas awal di tempat atau Gas In-Place sekitar 100 miliar kaki kubik (BCF).
Sementara itu, fasilitas produksi Lapangan Maha yang menelan investasi sekitar US$891 juta ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Oktober 2026. Proyek tersebut juga diperkirakan membuka lebih dari 700 lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia sekaligus memperluas keterlibatan industri fabrikasi dalam negeri dalam pengembangan migas laut dalam.
Presiden Direktur Searah Muara Bakau B.V. Mirko Araldi mengatakan fasilitas Jangkrik saat ini sepenuhnya dioperasikan oleh tenaga kerja Indonesia. Perusahaan juga terus melanjutkan kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru.
“Fasilitas Jangkrik telah menjadi bagian penting dari operasi kami dan saat ini sepenuhnya dioperasikan oleh tenaga kerja Indonesia. Kami terus melanjutkan program eksplorasi, termasuk kegiatan survei seismik 3D/4D bersama mitra,” ujar Mirko.
Menurutnya, survei tersebut mencakup wilayah sekitar 12.000 kilometer persegi dan menjadi salah satu survei seismik terbesar yang dilakukan perusahaan di Indonesia untuk menilai potensi eksplorasi di Cekungan Kutai.
Cekungan Kutai sendiri memiliki potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik atau Tcf serta sekitar 300 juta barel kondensat. Potensi tersebut dinilai menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan migas nasional untuk memperkuat pasokan energi dalam negeri.
Bahlil juga mengapresiasi SKK Migas, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Eni, Searah, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan proyek tersebut.
Pemerintah juga berencana melibatkan pemerintah daerah dalam pembahasan lanjutan agar manfaat pengembangan proyek gas dapat dirasakan lebih luas oleh daerah dan masyarakat.
Bahlil menambahkan, pemerintah tetap terbuka memfasilitasi investasi domestik maupun asing di Indonesia dengan tetap berpegang pada aturan serta prinsip saling menguntungkan.
Menurutnya, investasi harus memberikan manfaat bagi perusahaan, pelaku usaha lokal, dan negara tanpa menciptakan keuntungan sepihak yang merugikan pihak lain.