Bahlil: Golkar Harus Terus Jadi Kekuatan Pembaruan dan Pembangunan

Jakarta — Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia memandang usia ke-62 Partai Golkar sebagai ruang refleksi untuk memperkuat kembali identitas partai sebagai kekuatan pembaruan dan pembangunan bangsa.

Dalam tulisan opininya pada peringatan HUT ke-62 Partai Golkar, Bahlil menempatkan semangat pembaruan dan pembangunan sebagai bagian yang melekat dalam perjalanan dan doktrin Partai Golkar. Nilai tersebut, menurutnya, tercermin dalam Anggaran Dasar serta Ikrar Panca Bhakti Partai Golkar yang mengedepankan kerja keras, tanggung jawab, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bahlil menilai identitas tersebut memiliki akar panjang sejak pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya pada 20 Oktober 1964. Kehadiran Golkar ketika itu membawa pendekatan politik yang berorientasi pada karya, pembaruan, dan pembangunan.

Perjalanan Golkar kemudian mengalami berbagai perubahan seiring perkembangan politik nasional. Reformasi 1998, menurut Bahlil, menjadi salah satu titik penting yang mendorong pembaruan internal dan transformasi Golkar menjadi partai politik yang lebih demokratis, responsif, dan terbuka.

Memasuki era saat ini, Bahlil menilai semangat pembaruan tersebut harus terus diterjemahkan dalam cara Partai Golkar menjalankan organisasi maupun mengambil peran dalam pembangunan nasional.

Ia juga mengaitkan dukungan Partai Golkar terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan komitmen partai untuk berkontribusi terhadap agenda pembangunan nasional.

Bahlil berpandangan pembaruan tidak cukup dilakukan dalam bentuk politik konvensional. Partai Golkar, menurutnya, perlu kembali memperkuat karakter teknokratik yang sejak awal menjadi salah satu ciri organisasi.

Pendekatan teknokratik tersebut menempatkan proses pembangunan berdasarkan perencanaan yang sistematis, kajian akademis, serta target yang terukur. Karena itu, ruang intelektual dan tradisi akademik di lingkungan partai dinilai perlu terus diperkuat.

Menurut Bahlil, Partai Golkar tidak cukup hanya menghasilkan politikus. Sistem kaderisasi juga perlu membentuk kader yang mampu menggabungkan kemampuan politik dengan kapasitas teknokratik dalam memahami dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Ia menyebut Akademi Partai Golkar, Golkar Institute, dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Partai Golkar memiliki peran strategis dalam proses tersebut. Ketiga lembaga itu diharapkan menjadi penggerak kaderisasi yang mampu menghasilkan sumber daya politik dengan kompetensi yang semakin kuat.

Bagi Bahlil, kemampuan untuk terus memperbarui diri menjadi penting agar Partai Golkar tidak berhenti pada pencapaian masa lalu. Pengalaman sejarah perlu menjadi landasan untuk menghadirkan gagasan dan kerja yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia ke depan.

Dengan memperkuat doktrin karya kekaryaan, tradisi teknokratik, kaderisasi, serta kapasitas intelektual organisasi, Partai Golkar diarahkan untuk terus memainkan peran dalam proses pembaruan dan pembangunan nasional.

Sumber: Diolah dan ditulis ulang berdasarkan artikel opini Kompas.id berjudul “Partai Golkar, Pembaruan dan Pembangunan” karya Bahlil Lahadalia, 20 Oktober 2026.

Scroll to Top