Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Firman Soebagyo mendorong hasil riset dan inovasi budidaya ikan berbiaya terjangkau dikembangkan lebih luas agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Teknologi seperti sistem bioflok dan sirkulasi air dinilai dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan produksi ikan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap sumber protein hewani.
Hal tersebut disampaikan Firman saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Ocean Institute of Indonesia (OII) Kampus Sidoarjo di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (28/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV melihat sejumlah fasilitas pendidikan vokasi dan teaching factory, termasuk teknologi mini Recirculating Aquaculture System (RAS) yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas budidaya sekaligus menghemat penggunaan air.
Firman menilai inovasi yang dikembangkan menunjukkan bahwa budidaya ikan dapat dilakukan dengan teknologi yang relatif sederhana dan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan sejumlah sistem konvensional.
“Bagaimana mereka itu mengubah sistem dengan menggunakan teknologi sirkulasi air. Ternyata itu jauh lebih murah,” kata Firman.
Ia mencontohkan penggunaan beberapa kolam berbahan plastik yang dapat dibangun dengan biaya relatif terjangkau. Menurutnya, model seperti itu berpotensi diterapkan lebih luas apabila disertai pendampingan dan dukungan program pemerintah.
Firman mengatakan Komisi IV ingin pengembangan program budidaya berbasis bioflok tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok atau wilayah tertentu, tetapi semakin merata sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat secara langsung.
“Oleh karena itu, kami bersepakat tadi dengan teman-teman di Komisi IV bahwa ke depan program-program bioflok itu digeser agar lebih merata kepada masyarakat,” ujarnya.
Pengembangan budidaya ikan, menurut Firman, juga berkaitan dengan upaya memperluas akses masyarakat terhadap sumber protein hewani. Ia menilai ikan relatif lebih mudah dijangkau dibandingkan beberapa jenis protein hewani lainnya yang harganya lebih tinggi.
“Karena protein hewani untuk masyarakat itu jauh lebih mudah didapatkan dari ikan daripada protein hewani lain seperti daging, unggas, yang mahal,” kata Firman.
Dorongan untuk memperluas budidaya ikan berbasis teknologi juga sejalan dengan perhatian Komisi IV terhadap pengembangan sektor perikanan budidaya. DPR sebelumnya mendorong pemanfaatan berbagai model seperti bioflok, kampung budidaya, hingga mina padi untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas basis produksi perikanan di masyarakat.
Selain meningkatkan produksi, Firman menilai pengembangan teknologi budidaya berbiaya terjangkau dapat mendukung upaya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Ikan dapat menjadi salah satu pilihan sumber protein hewani yang tersedia bagi berbagai lapisan masyarakat, terutama apabila produksi dapat dikembangkan lebih dekat dengan konsumen.
Komisi IV juga menilai hasil penelitian dan inovasi dari lembaga pendidikan kelautan dan perikanan perlu diarahkan agar tidak berhenti pada skala laboratorium atau kampus. Teknologi yang dinilai efektif dan ekonomis perlu diterjemahkan menjadi program yang dapat direplikasi oleh kelompok pembudidaya maupun masyarakat.
OII Kampus Sidoarjo sendiri mengembangkan kegiatan teaching factory yang menggabungkan pendidikan dengan praktik produksi dan pengembangan teknologi. Selain mini RAS, kampus tersebut juga memiliki kegiatan pengolahan berbagai produk perikanan. Dalam kunjungan Komisi IV, pihak kampus memaparkan bahwa pengembangan teknologi budidaya dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Firman juga mendorong penguatan fasilitas pendidikan dan penelitian di bidang kelautan dan perikanan agar inovasi yang dihasilkan semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan teknologi yang lebih sederhana, hemat air, dan terjangkau, ia berharap pengembangan budidaya ikan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, sekaligus memperkuat produksi perikanan dan menyediakan sumber protein hewani yang lebih mudah diakses.