Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Hasan Basri Agus mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera memastikan penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berjalan optimal, mulai dari pemenuhan kebutuhan masyarakat hingga pendataan kerusakan dan pemulihan wilayah terdampak.
Banjir bandang melanda Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada Senin (21/9/2026) setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. BNPB mencatat bencana itu menyebabkan korban jiwa, warga luka-luka, pengungsian, serta kerusakan pada permukiman dan fasilitas pemerintahan. BNPB
Hasan menilai peninjauan langsung diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus memetakan kebutuhan masyarakat yang terdampak.
“Kita mengharapkan agar BNPB segera turun ke lapangan untuk mengecek kejadian yang ada di Sumatera Barat tersebut,” kata Hasan.
Menurutnya, kehadiran BNPB dibutuhkan tidak hanya untuk memastikan respons darurat, tetapi juga untuk menentukan jenis bantuan yang diperlukan, termasuk kebutuhan pokok serta dukungan terhadap perbaikan kerusakan akibat bencana.
“Biasanya apa yang bisa dilakukan, bantuan-bantuan diberikan oleh BNPB, baik itu berupa sembako atau perbaikan-perbaikan dan menghitung kerusakan-kerusakan yang ada,” ujarnya.
Hasan mengatakan pendataan kerusakan menjadi bagian penting karena dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan dan pemulihan selanjutnya.
“Nanti kita harapkan agar segera turun, cek apa yang terjadi di Kabupaten Solok,” katanya.
BNPB sendiri telah turun langsung ke Kabupaten Solok. Kepala BNPB Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno meninjau sejumlah lokasi terdampak pada Kamis (24/9/2026). Pemerintah Kabupaten Solok juga telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 22 September hingga 5 Oktober 2026. BNPB
Penanganan selama masa tanggap darurat difokuskan pada pencarian dan pertolongan, penanganan pengungsi, pemenuhan kebutuhan dasar, pembersihan wilayah terdampak, pemulihan akses dan fasilitas umum, serta pendataan dampak bencana. BNPB
Hasan juga menyoroti pentingnya mitigasi karena Sumatera Barat berulang kali menghadapi bencana banjir bandang. Menurutnya, penanganan tidak cukup berhenti pada respons saat bencana terjadi, tetapi harus diikuti langkah pencegahan dan perbaikan pascabencana.
“Memang di Sumatera Barat ini paling sering terjadi banjir-banjir bandang seperti itu,” ujar Hasan.
Ia berharap masyarakat terdampak tetap bersabar selama proses penanganan dan pemulihan berlangsung.
“Harapan kami agar masyarakat bersabar. Insyaallah pemerintah akan segera turun dan kita persiapkan untuk memperhatikan persoalan itu, apa yang terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan untuk perbaikan,” katanya.
Penanganan banjir bandang Solok kini telah berlanjut ke tahap pembersihan dan pemulihan setelah seluruh korban yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan. BNPB menyebut langkah selanjutnya mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan layanan, pendataan rumah rusak, serta penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. BNPB
Hasan mendorong agar proses tersebut terus dikawal, sehingga penanganan darurat, penyaluran bantuan, hingga pemulihan infrastruktur dan kehidupan masyarakat terdampak dapat dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.