Wihaji Perkuat Peran 600 Ribu Pendamping Keluarga, 10,1 Juta Ibu dan Balita Terima MBG 3B

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan pemerintah terus memperkuat peran pendamping keluarga dalam mendukung pembangunan keluarga, pemenuhan gizi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Wihaji menyebut Kemendukbangga/BKKBN memiliki sekitar 600 ribu pendamping keluarga yang tersebar di seluruh Indonesia. Para pendamping tersebut menjadi salah satu ujung tombak pemerintah dalam memberikan edukasi sekaligus mendampingi keluarga di tingkat masyarakat.

“Kita punya 600 ribu pendamping keluarga di seluruh negara,” kata Wihaji.

Salah satu tugas yang dijalankan adalah mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B, yang diperuntukkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Pendamping keluarga turut membantu proses distribusi sekaligus memberikan edukasi kepada penerima manfaat.

“Yang kedua mengedukasi. Jadi MBG 3B, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, mempunyai tugas kita buat mendistribusikan kemudian mengedukasi,” ujarnya.

Wihaji mengatakan hingga saat ini lebih dari 10,1 juta penerima manfaat dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita telah mendapatkan MBG khusus 3B.

“Per hari ini sudah 10,1 juta lebih sedikit warga negara yang ibu hamil, ibu menyusui, dan balita mendapatkan MBG khusus 3B,” kata Wihaji.

Menurutnya, pelaksanaan program tersebut memiliki tujuan utama untuk membantu memperbaiki kualitas gizi sekaligus menurunkan prevalensi masalah gizi pada keluarga, khususnya kelompok ibu dan anak.

Selain intervensi di bidang gizi, Wihaji turut menyoroti pentingnya penguatan ekonomi keluarga. Ia menyinggung keberadaan UPPKA yang mendorong keluarga mengembangkan usaha produktif dalam skala kecil untuk membantu menambah pendapatan rumah tangga.

“Dulu ada yang namanya UPPKA dan itu harapannya ada usaha kecil-kecilan yang dilakukan oleh mereka, minimal membantu pendapatan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Wihaji, pembangunan keluarga tidak hanya menyangkut aspek kependudukan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas kesehatan, gizi, pendampingan, hingga ketahanan ekonomi keluarga.

Ia optimistis berbagai persoalan kependudukan dan pembangunan keluarga dapat ditangani melalui kerja bersama serta program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Harapan saya, insyaallah Indonesia akan baik-baik saja. Saya meyakini Indonesia ke depan tambah baik, semakin baik, dan kelihatan akan tambah baik. Indonesia itu selalu ada solusinya apa pun, termasuk di urusan kependudukan dan pembangunan keluarga. Insyaallah ada solusinya,” kata Wihaji.

Scroll to Top