Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan operasional perdana bus hidrogen berbasis Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) dalam ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026.
Kehadiran bus tersebut menjadi tonggak awal pengembangan ekosistem transportasi hidrogen nasional sekaligus memperkuat upaya transisi energi menuju sektor transportasi rendah emisi.
Bus hidrogen ini merupakan hasil konversi armada bus diesel milik DAMRI menggunakan teknologi Diesel Dual Fuel (DDF) yang memungkinkan mesin memanfaatkan campuran solar dan hidrogen secara optimal. Pendekatan tersebut dinilai lebih ekonomis karena memanfaatkan armada yang sudah ada tanpa harus membeli bus baru.
Dalam peresmian tersebut, Bahlil menegaskan bahwa pengembangan hidrogen tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga membangun ekosistem industri energi bersih yang terintegrasi.
“Pengembangan hidrogen harus dibangun dari sisi ekosistem. Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar Indonesia mampu menjadi pemain utama dalam pengembangan hidrogen dan pemanfaatannya bagi perekonomian nasional,” ujar Bahlil.
Menurutnya, transportasi menjadi salah satu sektor strategis dalam pemanfaatan hidrogen karena memiliki kontribusi besar terhadap penurunan emisi karbon sekaligus membuka peluang lahirnya industri baru berbasis energi bersih.
Proyek percontohan ini melibatkan kolaborasi Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT TPG, dan PT SUCOFINDO (Persero). Kolaborasi tersebut mencakup penyusunan regulasi, penyediaan hidrogen hijau, konversi teknologi, hingga pengujian keselamatan kendaraan.
Dari sisi performa, hasil uji coba menunjukkan penggunaan teknologi DDF mampu meningkatkan efisiensi konsumsi solar dari sekitar 3,1 kilometer per liter menjadi 5,9 kilometer per liter. Selain itu, emisi karbon dioksida (CO₂) turun 39,37 persen, emisi karbon monoksida (CO) berkurang 57,66 persen, opasitas asap turun 45,45 persen, dan emisi NOx menyusut 21,16 persen dibandingkan bus diesel konvensional.
Untuk menjamin keamanan operasional, bus dilengkapi 16 tabung hidrogen yang ditempatkan secara seimbang di bagasi bawah, sensor gas berstandar internasional, katup darurat otomatis, serta sistem ventilasi yang mengalirkan gas ke bagian atap apabila terjadi kebocoran. Seluruh sistem juga telah melalui pengawasan independen oleh SUCOFINDO.
Ke depan, bus hidrogen ini masih akan menjalani tahapan homologasi dan sertifikasi uji tipe sebelum dapat dioperasikan secara komersial. Pengembangan tersebut diharapkan menjadi model implementasi kendaraan hidrogen di Indonesia sekaligus mempercepat terbentuknya ekosistem hidrogen nasional yang aman, efisien, dan berkelanjutan.