Lewat GAMAS, Kemendukbangga Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

MENTERI Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengajak para ayah untuk meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk sekolah melalui program Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS). Menurutnya, kehadiran ayah pada momen tersebut merupakan bentuk dukungan psikologis yang akan membekas dalam ingatan anak sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.

Hal itu disampaikan Wihaji saat meninjau pelaksanaan GAMAS di SLB Negeri 02 DKI Jakarta, Senin (13/7). Kunjungan tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Wihaji menjelaskan, pelaksanaan GAMAS telah didukung melalui koordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB). Menurutnya, KemenPANRB telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh kementerian dan lembaga agar memberikan dispensasi kepada para ayah yang memiliki anak usia sekolah untuk mengantarkan anak mereka pada hari pertama masuk sekolah.

“Saya sudah koordinasi dengan MenPANRB, kemudian MenPANRB juga sudah membuat surat edaran ke seluruh kementerian dan lembaga di Indonesia agar para ayah yang memiliki anak diberi kesempatan dan dispensasi untuk mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama masuk sekolah,” kata Wihaji.

Dalam kesempatan itu, Wihaji memilih mengunjungi SLB Negeri 02 DKI Jakarta sebagai bentuk apresiasi kepada anak-anak berkebutuhan khusus beserta keluarga mereka. Ia menilai para orang tua yang mendampingi anak berkebutuhan khusus merupakan sosok yang luar biasa karena memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak.

“Mereka orang-orang hebat. Anaknya berkebutuhan khusus yang punya kelebihan, maka orang tuanya pasti hebat,” ujarnya.

Wihaji mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, terdapat hampir 250 ribu anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan di satuan pendidikan formal di Indonesia. Sementara itu, di DKI Jakarta terdapat sekitar 6.000 anak berkebutuhan khusus yang bersekolah.

Menurutnya, keluarga merupakan unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam membangun bangsa. Karena itu, negara harus hadir untuk mendukung seluruh keluarga, termasuk keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

“Unit terkecil di sebuah negara adalah keluarga. Maka untuk memperbaiki negara bersama-sama dimulai dari keluarga, termasuk mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Negara juga wajib hadir,” ucapnya.

Ia juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas penyediaan fasilitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, fasilitas yang baik di SLB Negeri 02 DKI Jakarta memberikan harapan bagi anak-anak agar dapat berkembang dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Lebih lanjut, dalam dialog bersama para orang tua, Wihaji menerima berbagai masukan, salah satunya mengenai peluang kerja bagi lulusan penyandang disabilitas. Ia berharap semakin banyak dunia usaha yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas sesuai kemampuan mereka.

“Saya juga meminta kepada teman-teman yang memiliki usaha, sepanjang pekerjaannya memungkinkan untuk dikerjakan oleh penyandang disabilitas, tolong diberikan kesempatan,” tuturnya.

Wihaji pun kembali menegaskan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak. Ia menyebut sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fenomena fatherless atau kehilangan figur ayah dalam kehidupan sehari-hari.

“Hari ini 25 persen anak-anak kita mengalami fatherless. Karena itu saya titip, sempatkan waktunya di hari yang istimewa ini untuk mengantarkan anak ke sekolah. Mungkin hanya sebentar, tetapi itu akan diingat selamanya oleh anak bahwa orang tuanya hadir secara psikologis dan memberikan perhatian,” jelasnya.

Ia mengingatkan, apabila orang tua tidak hadir dalam kehidupan anak, maka ruang tersebut berpotensi digantikan oleh gawai yang kini mendominasi waktu anak-anak.

“Hati-hati, kalau kita tidak hadir maka ada keluarga baru yang hadir, yaitu handphone. Delapan sampai sepuluh jam setiap hari memengaruhi algoritma pikiran dan perilaku anak,” katanya.

Bagi anak yang tidak memiliki ayah, Wihaji menekankan bahwa peran tersebut dapat digantikan oleh figur lain dalam keluarga maupun lingkungan sekitar, seperti paman, kakek, ibu, atau tokoh masyarakat. Menurutnya, yang terpenting adalah tetap hadirnya sosok pendamping yang memberikan perhatian dan dukungan kepada anak.

Melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah, pemerintah berharap semakin banyak ayah terlibat aktif dalam pengasuhan sehingga tercipta keluarga yang lebih kuat dan anak-anak Indonesia dapat tumbuh serta berkembang secara optimal.

Scroll to Top