Dorong IKM Naik Kelas, Kemenperin Gaspol Digitalisasi dan AI untuk Rebut Pasar Global

Kementerian Perindustrian terus mempercepat transformasi digital pelaku industri kecil dan menengah (IKM) guna meningkatkan daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital kini menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku IKM, terutama dalam memperluas akses pasar melalui pemasaran berbasis digital.

“Program literasi digital terus kami dorong agar pelaku IKM mampu memanfaatkan platform pemasaran online secara optimal,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (7/4).

Dalam implementasinya, Kemenperin menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi hingga pelaku industri, guna memastikan efektivitas program berjalan berkelanjutan.

Potensi pasar digital Indonesia sendiri sangat besar. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat jumlah pengguna internet pada 2025 mencapai 229,43 juta orang. Sementara itu, jumlah pengguna e-commerce diproyeksikan menyentuh 73,06 juta, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp1.192,8 triliun.

Untuk menangkap peluang tersebut, Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin menggelar Workshop e-Smart IKM dan Literasi Digital di Bali pada 1 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 80 pelaku IKM dan melibatkan mitra seperti Shopee, IKEA Indonesia, serta Universitas Ciputra.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyampaikan bahwa pemasaran digital kini menjadi keharusan karena mampu menjangkau pasar lebih luas dibanding metode konvensional.

Ia juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam strategi pemasaran, mulai dari personalisasi promosi hingga analisis perilaku konsumen secara lebih akurat.

Sejak diluncurkan pada 2017, program e-Smart IKM telah menjangkau lebih dari 31.634 pelaku usaha. Selain pemasaran, Kemenperin juga mendorong transformasi Industri 4.0 pada lini produksi.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menambahkan, pelatihan yang diberikan mencakup strategi pemasaran digital, fotografi produk, hingga optimalisasi marketplace.

Ke depan, pelaku IKM di Bali diharapkan memanfaatkan fasilitas Balai Pengembangan Industri Fesyen dan Kriya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing, khususnya di sektor kriya dan fesyen.

Langkah Kemenperin ini menunjukkan arah kebijakan industri nasional yang semakin fokus pada digitalisasi sebagai kunci daya saing. Ada beberapa poin penting:

1. Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan

IKM yang tidak masuk ke ekosistem digital akan tertinggal. Dengan pasar online yang tumbuh cepat, kehadiran di marketplace dan media sosial menjadi “toko utama”, bukan sekadar tambahan.

2. AI jadi game changer bagi IKM

Pemanfaatan AI membuka peluang besar target pemasaran lebih tepat, prediksi tren lebih akurat, efisiensi biaya promosi. Namun, tantangannya adalah kesiapan SDM dan literasi teknologi.

3. Kolaborasi jadi kunci keberhasilan

Keterlibatan platform seperti Shopee dan IKEA menunjukkan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan swasta mempercepat adopsi teknologi di lapangan.

4. Peluang besar, tapi ancaman juga nyata

Pasar digital memang luas, tapi juga membuka pintu lebih lebar bagi produk impor. Tanpa peningkatan kualitas dan branding, IKM lokal bisa kalah di “rumah sendiri”.

5. Transformasi harus menyeluruh

Tidak cukup hanya digital marketing. IKM juga harus meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi (Industri 4.0), standarisasi dan sertifikasi.

Program digitalisasi IKM yang digencarkan Kemenperin merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur industri nasional. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan pelaku usaha dalam beradaptasi dengan teknologi, serta konsistensi pendampingan dari pemerintah dan mitra industri.

Scroll to Top