JAKARTA – Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Perempuan Partai Golkar pada Senin, 15 Desember 2025. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 1 DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, dan diikuti jajaran pengurus harian serta kader perempuan dari berbagai daerah.
Ketua Umum PP KPPG Hetifah Sjaifudian dalam sambutan pembukaan menegaskan militansi dan loyalitas kader perempuan Golkar tidak perlu diragukan. Menurut dia, keterlibatan kader KPPG selama ini selalu terlihat dalam berbagai agenda dan kerja-kerja partai, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Namun Hetifah menilai semangat dan loyalitas saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya pembekalan pengetahuan dan keterampilan politik agar kader perempuan mampu bertahan dan bersaing secara sehat. “Kader KPPG sudah memiliki semangat, keberanian, dan loyalitas. Namun itu saja tidak cukup, harus dibekali dengan pengetahuan politik,” ujarnya.
Hetifah, yang juga Ketua Komisi X DPR RI, mengakui dunia politik masih sarat tantangan bagi perempuan. Meski perempuan terbukti mampu bertahan, ia menilai diperlukan perangkat pengetahuan, keterampilan khusus, serta keberanian agar perempuan benar-benar bisa survive dan berkompetisi. Menurut dia, penguatan kapasitas menjadi kunci agar kader perempuan tidak sekadar hadir, tetapi juga berpengaruh.
Peran KPPG
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Hetifah menyatakan KPPG akan terus diperkuat hingga tingkat kecamatan, bahkan desa dan kelurahan. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas basis kader perempuan sekaligus memastikan kaderisasi berjalan dari tingkat akar rumput.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam partai politik. Ia mengingatkan bahwa keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai minimal harus mencapai 30 persen, termasuk dalam struktur Partai Golkar.
Menurut Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI tersebut, keterlibatan perempuan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kuota. Perempuan harus aktif terlibat dalam diskusi, rapat, dan proses pengambilan keputusan sehari-hari agar merasa nyaman dalam dunia politik dan membangun kepercayaan diri.
“Dalam daftar calon legislatif juga berlaku 30 persen perempuan. Artinya peluang perempuan itu sudah terbuka,” kata Sarmuji. Meski Golkar telah memenuhi ketentuan tersebut, ia mengakui persoalan kader perempuan belum sepenuhnya tuntas. Salah satunya adalah persoalan kepercayaan diri yang masih menjadi tantangan dalam perekrutan calon legislatif perempuan.
Sarmuji menilai perempuan sejatinya sudah memiliki pemahaman politik yang memadai. Tantangannya, menurut dia, terletak pada kemampuan negosiasi dan kerja sama politik yang biasanya terasah lewat pengalaman. “Jika perempuan terlibat terus-menerus, pelan tapi pasti akan menemukan caranya sendiri dan membangun skill-nya sendiri,” ujarnya.
Selain itu Pelatihan Peningkatan Kapasitas Perempuan Partai Golkar digelar pada 15–17 Desember 2025 di Jakarta dan Bogor. Sebanyak 196 peserta yang berasal dari seluruh pengurus PP KPPG mengikuti kegiatan ini. Sejumlah narasumber dari unsur pimpinan Partai Golkar dan kementerian terkait dihadirkan untuk menyampaikan materi penguatan organisasi, kepemimpinan, pengelolaan keuangan, literasi digital, kependudukan, serta peran sosial dan kemanusiaan. Seluruh peserta juga telah mengikuti need assessment sebagai dasar pemetaan kebutuhan penguatan kapasitas.
“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada pimpinan Partai GOLKAR, dan para narasumber, yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” kata Ketua Penyelenggara Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM Perempuan Partai Golkar, Ratu Dian Hatifa