Jakarta — Dalam sejarah panjang politik Indonesia, nama Haji Muhammad Soeharto tak bisa dilepaskan dari perjalanan Partai Golkar dan pembangunan nasional. Sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina Golkar, Soeharto bukan hanya simbol kekuasaan di masa Orde Baru. Ia juga sosok yang menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kerja keras, dan pengabdian untuk bangsa. Kini, dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, negara meneguhkan kembali warisan besar sang pemimpin dalam lembaran sejarah Indonesia.
Bagi keluarga besar Golkar, Soeharto adalah figur sentral yang membentuk karakter partai: solid, tangguh, dan fokus pada pembangunan. Di bawah kepemimpinannya, Golkar tumbuh menjadi partai politik paling berpengaruh di Tanah Air, dengan jaringan yang kuat hingga ke pelosok desa. Ia menata Golkar bukan sekadar mesin politik, melainkan wadah karya bersama untuk membangun negeri.
Di era kepemimpinannya, Soeharto menanamkan keyakinan bahwa politik harus menjadi alat pengabdian, bukan ambisi pribadi. Ia mendorong pembangunan ekonomi yang stabil, membuka peluang bagi pendidikan dan kesehatan rakyat. Soeharto juga menjaga keseimbangan sosial di tengah perubahan zaman. Banyak generasi yang tumbuh di masa itu merasakan buah dari kebijakan pembangunan yang terarah dan berkesinambungan.
Soeharto Pahlawan Nasional
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bukan sekadar penghormatan atas jabatan dan kekuasaan yang pernah dipegangnya. Gelar itu jugaa merupakan pengakuan atas dedikasi panjang seorang pemimpin yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan Indonesia. Ia tidak sempurna, sebagaimana tak ada pemimpin yang tanpa cela. Namun, jasa dan kontribusinya bagi bangsa tak dapat dihapus dari sejarah.
Golkar menyambut penghargaan ini dengan rasa haru dan kebanggaan. Di tengah dinamika politik modern, semangat yang diwariskan Soeharto tetap menjadi kompas perjuangan: bekerja nyata, menjaga persatuan, dan berbuat terbaik bagi rakyat.
Kini, ketika Indonesia melangkah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, penghargaan ini menjadi penegasan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan para pendirinya. Bahwa penghormatan terhadap sejarah bukan nostalgia masa lalu, melainkan bahan bakar untuk menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
Soeharto telah menutup lembar hidupnya, tetapi semangat pengabdiannya terus hidup dalam denyut perjuangan Partai Golkar—partai karya, partai pembangunan, partai yang tetap berdiri kokoh membawa cita-cita Indonesia yang sejahtera dan berdaulat.