Beritasatu – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan tahap studi kelayakan atau feasibility study (FS) pembangunan 17 kilang minyak di Indonesia hampir rampung.
“Yang 17 kilang, sekarang FS-nya hampir final. Tim kami yang ke beberapa negara di Afrika dan Amerika sudah kembali,” ujar Bahlil di sela Rapat Koordinasi Persiapan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Kantor BKPM, Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Bahlil menjelaskan, kilang yang akan dibangun merupakan kilang minyak modular, yakni unit berskala kecil yang bisa dibangun lebih cepat dengan kebutuhan investasi jauh lebih rendah dibanding kilang konvensional berkapasitas besar.
Sebanyak 17 kilang modular tersebut akan ditempatkan di berbagai lokasi, termasuk di Jawa, Kalimantan, hingga Papua. “Jadi dia (kilang) itu modular, tersebar di spot-spot,” kata Bahlil.
Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menargetkan pembangunan kilang di 18 daerah, antara lain Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, dan Fakfak.
Proyek ini bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini membebani anggaran subsidi energi.
Pernyataan Bahlil sejalan dengan permintaan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya menekankan agar PT Pertamina (Persero) mempercepat pembangunan kilang baru dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Selasa (30/9/2025).
Menurut Purbaya, impor BBM menyedot anggaran besar sehingga subsidi energi terus meningkat tiap tahun. Karena itu, ia menegaskan akan ikut mengawasi proyek kilang demi memperkuat kemandirian energi nasional.
“Jadi, saya bukan juru bayar saja. Saya akan masuk dan melihat apakah proyek-proyek yang diusulkan Pertamina benar-benar dijalankan,” tegas Purbaya.